Mengapa suara langkah kaki terdengar lebih keras di lorong kosong?

Mengapa suara langkah kaki terdengar lebih keras di lorong kosong? – Karena dinding-dinding yang berhadapan memantulkan gelombang suara secara simultan sehingga terjadi interferensi konstruktif yang memperkuat amplitudo suara asli hingga 3-6 dB.

Gema sebagai Penguat Suara Alamiah

Nah, ini adalah fenomena yang sering kita sebut sebagai efek lorong (corridor effect). Jadi, yang dimaksud adalah ketika suara dipaksa berjalan di ruang sempit antara dua dinding paralel. Perhatikan, setiap langkah kaki menghasilkan getaran udara dengan frekuensi 250-2000 Hz. Di lorong kosong, tidak ada perabot atau orang yang menyerap energi ini. Akibatnya, koefisien absorpsi rata-rata ruang hanya sekitar 0.10-0.15 (sangat rendah). Artinya, 85-90% energi suara terus memantul bolak-balik. Bayangkan seperti berada di dalam kotak drum raksasa!

Waktu Deru (Reverberation Time)

Yang menarik, panjangnya lorong sangat berpengaruh. Perhatikan, semakin panjang lorong, semakin lama suara bertahan. Misalnya, lorong sepanjang 20 meter dengan kecepatan suara 340 m/detik. Suara akan memantul bolak-balik sejauh 40 meter dalam satu kali pantulan. Ini memakan waktu sekitar 0,12 detik per pantulan. Jika ada 10 pantulan sebelum hilang, total waktu deru bisa mencapai 1,2 detik. Padahal, di ruang terbuka, suara hanya bertahan 0,1-0,2 detik. Inilah yang membuat langkah kaki terdengar “menggema” dan terus terdengar.

Penguatan Interferensi Konstruktif

Ingat ya, ini bukan sekadar pantulan biasa. Yang terjadi adalah interferensi konstruktif. Setiap pantulan suara memiliki fase yang hampir sama dengan suara asli. Perhatikan, ketika puncak gelombang suara asli bertemu dengan puncak gelombang pantulan, amplitudo menjadi 2 kali lebih besar (naik 6 dB. Jika ada 3 pantulan yang konstruktif, penguatan bisa mencapai 10-12 dB. Di lorong sempit, jarak pantulan pendek (1-3 meter), sehingga delaynya 3-9 milidetik. Ini sangat cepat, sehingga telinga manusia tidak bisa membedakannya sebagai suara terpisah. Hasilnya? Suara asli langsung “dipanaskan” amplitudonya.

Absorpsi Rendah = Pantulan Tinggi

Jadi, penyebab utamanya adalah material dinding yang keras. Di lorong kosong, dinding biasanya dari beton atau keramik dengan koefisien pantulan 0,95-0,98. Bandingkan dengan ruang kelas yang berkarpet dan berisi kursi, koefisiennya bisa 0,40-0,60. Perhatikan, setiap kali suara memantul, energi yang hilang sangat sedikit. Energi suara bertahan 10-15 detik sebelum turun di bawah ambang pendengaran (0 dB sementara ambang pendengaran manusia 0 dB SPL. Akibatnya, suara langkah kaki yang seharusnya hilang dalam 0,3 detik, justru bertahan 1-2 detik dengan intensitas tinggi.

Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

  1. Di teras rumah: Misalnya nih, kamu jalan di teras panjang lebar 2 meter dan panjang 10 meter. Suara langkah kaki terdengar 2-3 kali lebih keras dibanding di kamar tidurmu yang berukuran 3×4 meter dengan perabot lengkap.
  2. Di gedung parkir: Atau kalau di gedung parkir beton, suara ban mobil yang pecah terdengar sangat nyaring. Ini karena koefisien absorpsi hanya 0,02-0,05, sehingga suara bertahan 20-30 detik dan memantul 50-80 kali sebelum hilang.

Kesimpulan Sederhana

Nah, jadi suara langkah kaki itu terdengar lebih keras di lorong kosong karena tidak ada benda-benda yang bisa menyerap suara. Semua pantulan suara (gema) yang tadinya tersembunyi jadi saling bertabrakan dan terdengar jelas banget. Intinya, lorong kosong itu seperti ruang gema yang bikin suara sekecil apa pun jadi slay dan nyaring!